Kembali Menata Taat
Dahulu langkah ku ringan
Menjajak menari menuju masjid
Bergandengan bersama sama
Rumah ke masjid tak cukup jauh tuk hentikan ku
Kala adzan subuh terdengar
Tergerak diri tuk bangun
Bergegas berlarian di kala gelap masih melintang
Entah sejak kapan ku mulai rindu
Dulu rumah allah selalu menjadi tempat ku tuju
Di sana ku temukan damai yang mengengam
Sesekali ku merintih dan menangis
Entah apa yang kupikir
Namun tiada mampu aku berucap
Hanya tangisan hati yang bersuara
Aku merindukannya, sungguh. . .
Namun semakin dewasa
Aku mengerti
Wanita lebih baik beribadah di rumah
Karena rumah bagaikan benteng pelindung diri
Walau hati yang berat
Namun harus ku jalani
Disini ku melawan malas
Melawan kantuk
Aku berusaha keras
Hingga rasa sesal itu menyelimuti
Kala mentari telah terbit dan sholat belum ku jalankan
Tanpa tersadar itu berulang
Rasa sedih ku berlarut
Di kala sholat yang tak khusyuk ku jalani
Semakin jauh diri dari sang pencipta
Dan keseharian memaksaku menjauh
Sekali lagi ku tegur diri
Berhenti, ini terlalu jauh
Aku harus kembali
Entah harus memulai dari mana
Aku harus kembali menata taat
Seiring waktu berjalan
Ku ikuti majelis ilmu
Ku dekati ia yang taat
Dan ku selipkan dalam do'a
Ya Robbi bimbing aku ke jalanmu
2 komentar:
Maa Syaa Allah ukhty, bangga dan kagum banget sama natum, sukses dan berkah selalu ya, puisinya bermakna banget
Wafiika barakallah ukh terima kasih banyak atas komentarnya membuat saya bersemangat membuat puisi. Terima kasih banyak ukh.
Salam manis dari penulis
Posting Komentar