Senin, 26 September 2022

Hujan Sore Ini

 Hujan Sore Ini

Melangkah menuju hujan 

Langkahku terasa ringan 

Entah sejak kapan terakhir kalinya 

Aku merasa ketenangan ini 

Ditenagah rasa sakit . . .

Hai inner child ku 

Apa kamu terluka ? 

Mari bersamaku 

Berlari bersama hujan 

Melompat, terjatuh, dan tersingkap 

Terduduk diatas batang pohon 

Menatapmu berlarian 

Hatiku terasa sesak dan lega 

Andai ku dapat memelukmu 

Sesok kecil diriku  

Bahkan aku tak mengira 

Akan ada luka membekas itu 

Aku tau rasa sesak itu masih ada 

Getaran itu masih terasa 

Menyisakan puing-puing kaca 

Namun kuatkan dirimu 

Kamu sosok yang kuat 

Pemberani dan ceria 

Seperti ku, sosok kecilmu 

Di sore hari  

Bersama hujan dan mentari 

Terasa ringan dan berat 

Dibelakang pekarangan ku

Hujan Sore ini

Senin, 19 September 2022

Puisi Pelangi

 Pelangi


Badai kencang perlahan sirna
Bergemuruh mengelegar awan
Masih terhuyung menari
Kala mereda tersirat cahaya
Disebalik mendung
Terpancar warna indah
Menyatu dalam bingkai garis
Melengkung menjuntai sempurna
Ku syukuri nikmat ini
Bersama baiknya laku orang lain
Baiknya perangai mereka
Merajut tali saudara
Ku gengam erat rasa syukur
Terpanjat kehadiran allah
Maha pengasih lagi maha penyayang
Sekali lagi menyadari
Hanya kepadanyalah sandaran itu
Sandaran terkokoh gambar diri
Pelangi menyinari sanubari

Minggu, 18 September 2022

Mawar Putih

 Puisi yang ku persembahkan untuk hati yang terluka karena ia mendamba taat, yang mengores luka. Menjauh untuk Mendekat

 Mawar Putih

Mawar putih

Ingin ku mengukir warna pelangi
Ingin ku alih rona biru
Ingin ku gapai merah merona
Namun diriku hanya putih
Melekuk berduri tajam
Adakah kupu kan hinggap
Akankah lebah menghisap
Aku hanya putih
Ku inginkan lebah hinggap
Dan abaikan kupu menepi
Tidak tak ku abaikan
Namun aku hanya ingin mentari
Ku tak menyalahkan
Hanya bergelud pada pikiran
Bersandar pada sandaran tak kokoh
Buat ku terhuyung berulang
Padahal ku tau allah sandaranku
Kembali ku menitih sendu
Teruntuk kedua kalinya terluka
Kelopakku jatuh ditengah hujan
Aku menangis pilu
Ku tutup diri
Berharap kan semi kembali
Putih ku yang layu tak hilang
Akan tumbuh dengan lebih indah
Hari ini luka namun esok
Mawar putih kan bahagia

Senin, 12 September 2022

Puisi Tentang Pengelana

 Pengelana

Waktu berhembus lembut

 Stimulus menekan angan

 Kala hati yang terpejam erat

Nampak banyak lalu lalang

Sepi  dikeramaian

Terkuras saat bersesakan

Serambi mekah itu ada

Sejuk juga menenagkan

Terbesit takut, Namun damai hadir di dalamnya

Setiap kali lafadz allah diucap

Setiap kali masjid berpenuh orang

Setiap sholawat diucap

Disitulah kembali berkuat diri

Ketenangan dan ketentraman itu ada

Jalan kaki itu menyenangkan

Dan sendiri itu tidak mengapa 

Banda Aceh, 26 Agustus 2022 (18.27)


Bismillah.... terima kasih untuk temanku karena ia aku mampu membuat blog dan puisi ini aku buat beberapa saat yang lalu dan ada beberapa kata yang ia sempurnakan berikut ini puisi ku yang ia sempurnakan.

Pengelana

Waktu berhembus lembut

Stimulus menekan angan

Kala hati yang terpejam erat

Nampak banyak lalu lalang

Sepi dikeramaian

Terkuras saat bersesakan

Serambi mekkah itu ada 

Sejuk juga menenagkan

Kebesaran Allah yang Maha kuasa

Terbesit takut, namun damai hadir didalamnya

Setiap kali lafadz Allah di ucap

Setiap kali masjid berpenuh orang

Setiap sholawat dilantunkan

Disitulah kembali berkuat diri

Sesungguhnya ketenangan dan ketentraman itu ada di dalam jiwa pribadi masing-masing

Jalan kaki itu menyenangkan dan sendiri tidak mengapa

 

#PuisiGambarDiri 

#KumpulanPuisi

Sabtu, 10 September 2022

Puisi Tentang Kembali Menata Taat

 Kembali Menata Taat

Dahulu langkah ku ringan

Menjajak menari menuju masjid

Bergandengan bersama sama

Berlarian kencang kala iqomah telah terdengar

Rumah ke masjid tak cukup jauh tuk hentikan ku

Kala adzan subuh terdengar

Tergerak diri tuk bangun

Bergegas berlarian di kala gelap masih melintang

Entah sejak kapan ku mulai rindu

Dulu rumah allah selalu menjadi tempat ku tuju

Di sana ku temukan damai yang mengengam

Sesekali ku merintih dan menangis

Entah apa yang kupikir

Namun tiada mampu aku berucap

Hanya tangisan hati yang bersuara

Aku merindukannya, sungguh. . .

Namun semakin dewasa

Aku mengerti

Wanita lebih baik beribadah di rumah

Karena rumah bagaikan benteng pelindung diri

Walau hati yang berat

Namun harus ku jalani

Disini ku melawan malas

Melawan kantuk

Aku berusaha keras

Hingga rasa sesal itu menyelimuti

Kala mentari telah terbit dan sholat belum ku jalankan

Tanpa tersadar itu berulang

Rasa sedih ku berlarut

Di kala sholat yang tak khusyuk ku jalani

Semakin jauh diri dari sang pencipta

Dan keseharian memaksaku menjauh

Sekali lagi ku tegur diri

Berhenti, ini terlalu jauh

Aku harus kembali

Entah harus memulai dari mana

Aku harus kembali menata taat

Seiring waktu berjalan

Ku ikuti majelis ilmu

Ku dekati ia yang taat

Dan ku selipkan dalam do'a

Ya Robbi bimbing aku ke jalanmu


Jumat, 09 September 2022

Puisi Tentang Perjuangan Seorang Anak Mengapai Mimpi

         Kisah Cermin Perjuangan     

Setiap kehidupan adalah sebuah film  

Kita mendapat awal dan kisah yang berbeda  

Film ini sangat menyenangkan untuk dinikmati  

Dalam setiap jengkal langkah kaki yang menantang   

Tinggiku adalah radius lainnya bumi  

Langkah ku berpijak pada jalan yang kucari  

Aku adalah semua kebahagiaan dan rasa sakit

Jauh dilubuk hatiku ada sebuah dunia hampa   

Mata yang kesepian terjebak dalam kegelapan  

Tiada orang yang akan menggengam tanganku  

Mungkin ada, namun tak mampu mengerti   

Perjuangan ditempat berpijak dan beradu nasib  

Keadaan ini tak akan mudah buatku malu   

Walau terkadang rasa tak mampu sering kali menghampiriku  

Menengok perjuangan mereka yang kian menggetarkan hatiku  

Tersirat pertanyaan, sanggupkah aku berjuang? demi memutar keadaan  

Setiap keringat, darah, dan air mata adalah cambuk   

Dalam mengejar mimpi merupakan sebuah keharusan  

Meskipun terkadang harus berlari dengan kesalahan dan air mata  

Namun hidup harus dijalani dengan melewati tiupan angin yang menerjang

Puisi Bias

 Bias Oleh : Amelia Putri (@amelia_putris1) Ini tentang dunia ku Laku yang tak sempat ditilik rindu Atau gemuruh yang selalu melulur Dalam t...